Saham – saham berjatuhan kurs rupiah pun tertekan, harga saham yang tadinya sangat tinggi kini mencapai titik terendahnya setiap hari. Bahkan ada saham yang nilainya lebih rendah dari nlai sebutir permen. Wajah-wajah optimisme diganti dengan paras-paras pesimisme.

Tidak hanya investor tetapi juga emiten – emiten di bursa efek kelimpungan menyelamatkan
harga sahamnya yang ambrol. Setiap hari isu negatif selalu membayangi bursa sehingga yang terdengar hanya opsi jual, jual dan jual. Yah memang itulah resiko yang harus diterima kalau anda berinvestasi di bursa saham yang digadang-gadang memiliki IRR yang besar dibanding investasi lainnya.

Namun, jangan terlalu merasa sedih karena bukan hanya pasar saham Jakarta yang terpuruk melainkan bursa-bursa Seluruh dunia juga mencatat keterpurukan. Bahkan, banyak indeks saham yang jatuh lebih dalam, lebih besar, ketimbang indeks dan harga saham di Bursa Efek Indonesia, seperti Shenzhen stock exchange di China yang mencatat poin tertingginya sebesar 19.141,13 pada 14 januari 2008. Namun,
sekarang terhitung pada tanggal 3 Desember 2008 nilainya hanya tinggal
1/3nya yaitu 7.041,07.

Yah, resesi global inilah yang dihadapi semua penduduk di muka bumi, akibat gagal bayar kredit perumahan menengah di Amerika (Subprime Mortgage) dan menjalar ke resesi di Eropa dan Jepang yang tidak lain negara-negara “pemimpin” perekonomian dunia. Resesi menyebabkan negara-negara tersebut mengurangi permintaannya dan dampaknya bagi perekonomian indonesia yaitu menurunnya nilai ekspor kita, karena ketiganya merupakan negara-negara tujuan ekspor terbesar indonesia. Hal ini menyebabkan menurunnya permintaan produk primer (pertanian, perkebunan dan pertambangan) serta produk manufaktr indonesia.

Permasalahan semakin pelik dengan meningkatnya biaya produksi untuk mengimpor bahan baku dari karena menurunnya nilai tukar rupiah, ditambah dengan meningkatnya suku bunga perbankan serta para buruh egois yang meminta kenaikan gaji tanpa peduli kondisi perusahaan tempat mereka bekerja.
Semakin lengkaplah kerumitan persoalan dunia usaha, termasuk emiten di bursa.

Dalam kondisi demikian, ancaman pemutusan hubungan kerja antara buruh dan perusahaan semakin terbuka lebar. Pengangguran membengkak, berarti daya beli masyarakat secara keseluruhan semakin mengecil. Turunnya daya beli menekan permintaan akan produk barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan sehingga semakin melengkapi keterpurukan dunia usaha.

Hal yang dapat kita lakukan sebagai warga negara indonesia yang baik adalah:

  1. Tidak mencari keuntungan pribadi dengan bermain-main valas yang dapat memperburuk nilai tukar rupiah.
  2. Memanfaatkan anggaran – anggaran yang mengganggur di rekening-rekening pemerintah untuk pembangunan infrastruktur menyerap lapangan kerja banyak, selain menjadi katup pengaman bagi tenaga kerja, juga bisa menjadi penyulut api pertumbuhan ekonomi terus menyala, dan permintaan barang tetap ada.
  3. Membeli barang-barang produksi dalam negeri.(tidak semua produk indosnesia itu jelek loh)
  4. Mengefisiensikan anggaran, kurangi membeli barang-barang yang tidak terlalu dibutuhkan.
  5. Mempermudah akses bagi kredit UMKM karena sektor riil adalah pondasi perekonomian indonesia.
Advertisement